PKBL PTPN IV sukses melahirkan Samino, seorang insinyur teknik lulusan UMSU, menjadi pengusaha konveksi kelas UKM di Kota Medan. (Istimewa)


Indomedia.co - Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) PTPN IV sukses melahirkan Samino, seorang insinyur teknik lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), menjadi pengusaha konveksi kelas usaha kecil, dan menengah (UKM) di Kota Medan.


"Saya sudah dibina oleh PTPN IV sejak Tahun 2001 dan dibantu pendanaan melalui PKBL sebesar Rp15 juta. Itu jumlah yang sangat besar dan mampu membantu usaha konveksi saya yang sudah dimulai sejak Tahun 1991," kata Samino kepada para wartawan, Selasa, 30 Maret 2021.


Samino mengaku awalnya datang ke Medan dari kota kelahirannya, Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, di Tahun 1991 untuk kuliah.


Sebagai putra dari karyawan perkebunan PTP milik pemerintah, Samino mengaku ingin kuliah sambil berusaha.


"Saat itu saya datang ke Medan dengan membawa buku pelajaran dan gunting, benang, dan jarum jahit untuk menjahit," ujar Samino.


Kuliah sambil berwirausaha menjahit terus ia lakoni sampai akhirnya tamat kuliah Tahun 1996. Lalu saat bekerja di salah satu perusahaan, ternyata Samino tidak bisa melupakan bisnis menjahitnya. 


Beberapa tahun kemudian ia mundur dari pekerjaannya dan fokus menjahit. Ia juga sempat dua kali bekerja di perusahaan agar ilmu tekniknya yang diperoleh di UMSU bisa diaplikasikan.


Tapi ia kembali fokus menjahit. Setelah itu ayah dua anak ini tak mau lagi melamar pekerjaan dan konsentrasi di pengembangan konveksi.


Pengusaha konveksi yang beralamat di Jalan Jermal 15 Gang Era Baru, Kecamatan Medan Denai, Medan, itu kini menjadi salah satu binaan produktif Tim Pengembangan Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PTPN IV.


Pria kelahiran 1 Januari 1971 ini mengungkapkan rasa syukurnya karena mulai menuai sukses berkat binaan PKBL PTPN IV.


Ia sendiri mengklaim tidak asing dengan perkebunan sawit dan karet.


"Saya lahir dan besar di Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu. Ayah saya adalah seorang karyawan PTP yang kini masuk dalam PTPN III," ujar Samino.


Sementara ayah mertuanya adalah karyawan PTPN IV. Karena itu tak heran kalau Samino, istri, dan dua anaknya membeli lahan di Kampung Pajak, Rantauprapat, Labuhanbatu, untuk ditanami sawit dan karet.


"Sembilan hektar sawit dan empat hektar karet. Yang sawit ditanam sekitar Tahun 2013, masih generasi pertama," kata insinyur teknik lulusan UMSU ini.


Selain itu, ia juga membeli empat hektare lahan di Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), untuk kemudian dijadikan lahan sawit plasma sebuah perkebunan sawit swasta milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Kota Medan.


"Ini adalah bagian dari pengembangan usaha saya. Jadi, usaha yang berkembang di konveksi berkat binaan PKBL PTPN IV, kini saya kembangkan untuk perkebunan sawit dan karet. Ya, masih skala kecil," kata Samino.


Tak cukup dengan lahan perkebunan sawit dan karet, kini Samino pun memiliki usaha kos-kosan di Berastagi, sebuah daerah pertanian dan pariwisata dan sering dijuluki "Bogornya Kota Medan".


Di Berastagi, ujar Samino, ada 13 kamar kos yang disewakan untuk para pekerja hotel, perusahaan pertanian, ASN, dan TNI/Polri.


"Rencana mau saya tambah menjadi 27 kamar kos-kosan," tegas Samino.


Samino sendiri mengaku sangat puas atas bimbingan para tenaga pelaksana PKBL PTPN IV sehingga membuat usaha konveksinya semakin eksis hingga saat ini.


"Bahkan saya turut merekomendasikan ke teman-teman saya yang juga pelaku UMKM agar berusaha meminjam dana ke PKBL PTPN IV. Sebab, nanti akan ada bimbingan dan kontrol atas perkembangan usaha kita," kata Samino.


Sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN), PTPN IV tak hanya memikirkan profit atau keuntungan semata.


Perusahaan perkebunan sawit dan teh ini juga menjalankan kewajiban melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang pembiayaannya diambil dari keuntungan perusahaan sesuai aturan yang berlaku.


"Melalui PKBL, PTPN IV benar-benar melakukan pembinaan ke UMKM binaan. Kami tak memikirkan keuntungan, namun tanggungjawab pengembalian modal usaha tetap harus dilaksanakan binaan kami," kata Ahmad Zarkasih, karyawan pelaksana PKBL PTPN IV.


Kata Ari, dalam melaksanakan program PKBL, termasuk untuk pendanaan usaha UMKM, selalu dilakukan monitoring dan evaluasi (Monev) yang kemudian nanti dijadikan dasar pembinaan agar UMKM yang diberi bantuan dana benar-benar bisa berkembang.


"Kan, maksimal tiga kali bantuan pendanaan kami cairkan ke pelaku UMKM binaan. Jadi, itu harus bisa dimaksimalkan dan harus bisa membuat binaan kita berkembang," ujarnya.


Di masa pandemi Covid-19, pihaknya pun tetap melakukan pembinaan, termasuk melalui aplikasi zoom atau video call dengan pelaku UMKM binaan.


"Di akhir Tahun 2019, sebelum Covid-19, Pak Samino dan pelaku UMKM lain yang kami bina juga pernah kami bawa studi banding ke para pelaku UMKM di Kota Semarang, Jawa Tengah," kata Ari. (Suwardi Sinaga)

Editor: Suwardi Sinaga

Lebih baru Lebih lama