Direktur Utama PT Medan Bus Transport Djumongkas Hutagaol. (Istimewa)


Dirut PT Medan Bus Transport Angkat Bicara Tentang Perubahan 

Indomedia.co - Mencermati derasnya arus perubahan, khususnya bidang jasa transportasi, Direktur Utama PT Medan Bus Transport Djumongkas Hutagaol menyarankan  agar pengusaha angkutan secara nasional, khususnya di kota Medan untuk melakukan perubahan (diversifikasi)ke jenis usaha lainnya.


Arus modernisasi yang berdampak luas terhadap segala perubahan, khususnya di bidang jasa transportasi (pengangkutan) yang kini  dilayani "dari dapur diantar ke dapur" lewat ojek online (Ojol), tidak akan terbendung lagi, ujar Djumongkas Hutagaol kepada media ini, Kamis, 15 April 2021.


Sadar atau tidak disadari bahwa kondisi kekinian secara tidak langsung memaksa bagi seluruh pengusaha angkutan untuk berbenah diri melakukan diversifikasi ke bidang usaha lainnya.


Djumongkas salah seorang yang berkiprah selaku pengusaha angkutan jenis bus sejak Tahun 1981 mengutarakan, betapa dahsyatnya perubahan yang terjadi seiring dengan tahapan fase demi fase yang terjadi.


Ketika Tahun 1981 perusahaan pengangkutan yang ada di Medan yakni Koperasi Pengangkutan Umum Medan (KPUM) dengan angkutan jenis bemo ditambah tujuh perusahaan bus diantaranya Medan Bus.


Sekitar Tahun 1986 KPUM semakin berkembang dengan jenis armada S-38, dilanjutkan jenis Hijet 55, Hijet 1000, Espass pintu samping. Ketika itulah KPUM benar-benar menjadi "raja angkutan" atau sebutan "armada kuning" di Medan.


Mengingat Ketua Umum KPUM Ferdinand Simangunsong benar benar "Golkar tulen" membuat KPUM semakin berkibar dengan bebasnya "menyerobot" trayek yang dilalui oleh pengangkutan bus.


Karena lahan cari makan perusahaan bus sudah terganggu akhirnya ketika itu ke tujuh perusahaan bus yang ada di Medan  mengajukan protes kepada Pemkot Medan agar diberi kemudahan dengan mengoperasikan jenis mini bus. Permohonan kami waktu itu akhirnya disetujui Pemkot Medan, ujar Djumongkas.


Namun persoalan di sektor pengangkutan tidak henti-hentinya. Sekitar tahun 90-an, muncul jenis betor (becak bermotor). Jumlahnya bukan tanggung, termasuk KPUM ikut mengelola ribuan unit betor. 


Namun menurut Djumongkas, salah satu faktor penyebab terdahsyat mengurangi jumlah penumpang yakni keberadaan handphone (HP). Sekarang ini orang untuk mencari pekerjaan, mengundang acara pesta atau kegiatan lainnya cukup dengan menggunakan HP. Sebelumnya harus pergi langsung dengan naik kendaraan pengangkutan.


Seiring dengan perkembangan zaman, muncul lagi taksi argometer. Jenis taksi inipun tidak bertahan lama. Kemudian disusul lagi dengan kehadiran taksi online. Ada Go Car, Grab, Maxim, dan In Driver.


Covid-19


Hantaman yang dialami pengusaha angkutan semakin kompleks. Sejak pandemi Covid-19 Maret 2020, dan sekolah diliburkan pada April 2020 hingga sekarang, maka dunia transportasi semakin terhimpit. Roda perekonomian dalam keadaan lesu dan sekolah pun diliburkan, padahal pelajar dan mahasiswa sebanyak 60 persen merupakan penumpang dari pengangkutan umum.


Dan hari-hari terakhir ini kelihatannya sudah mulai berubah. Geliat perekonomian sudah terasa bergerak, dan semoga Tuhan melalukan penyakit Covid-19 ini sehingga keadaan semakin membaik.


Tapi bagaimana sekalipun dibuat, perubahan tak seorang pun yang bisa menghambatnya. Jika kita renungkan, siapa bisa menyangka perubahan zaman yang begitu dahsyat. Ojol sebagai jenis pengangkutan kekinian dari dapur diantar ke dapur merupakan pilihan yang tepat, cepat dan praktis karena tanpa trayek, sedangkan naik jenis mobil penumpang pakai trayek dan dipastikan tidak bisa sampai ke rumah. Ini Ojol langsung dari dapur diantar ke dapur.


"Untuk itulah, saya menganjurkan kepada rekan pengusaha angkutan jenis konvensial untuk segera melakukan diversifikasi usaha. Jika tidak demikian, maka bersiaplah menghadapi jenis pengangkutan On Line," ujar Djumongkas yang kini selaku pengelola pengangkutan "by the servis" bus Trans Metro Deli.


Memang jika ada semangat dan kemauan tidak lah terlalu sulit untuk melakukan diversifikasi usaha.


"Saya sendiri ada mengelola kilang padi. Persaingan juga terjadi dengan kehadiran kilang padi jenis odong-odong yang melayani pintu ke pintu. Karena terimbas dengan persaingan, akhirnya saya tidak kehabisan akal untuk beternak itik petelur. Pengalaman yang saya jalani ini merupakan realita hidup untuk menghadapi derasnya arus perubahan dengan melakukan diversifikasi usaha," ujar Djumongkas merendah. (Bindu Hutagalung)

Editor: Suwardi Sinaga

Lebih baru Lebih lama