Serangan Israel menghantam sebuah bangunan di Gaza City, Jalur Gaza, Rabu, 12 Mei 2021. (VOA Indonesia)


Indomedia.co - Pertempuran lintas perbatasan paling sengit antara Israel dan Palestina sejak Tahun 2014 yang telah menelan sejumlah korban jiwa dan luka-luka, mendorong PBB mengeluarkan peringatan bahwa konflik ini dapat meningkat menjadi perang berskala penuh.


Tembakan roket tanpa henti terjadi di antara Israel dan kelompok militan Hamas di Gaza sejak Senin lalu. Tembakan tersebut dipicu kerusuhan akhir pekan lalu di kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem, kawasan yang dinilai suci oleh warga Muslim maupun Yahudi. Para pengamat menilai harapan untuk melangsungkan gencatan senjata memudar seiring perayaan Idulfitri, Kamis, 13 Mei 2021.


Dilansir dari VOA Indonesia, Jumat, 14 Mei 2021, sejumlah pengamat mengatakan beberapa insiden yang terjadi pada bulan suci Ramadan telah ikut berkontribusi pada meningkatnya rasa permusuhan. Insiden dimaksud antara lain demonstrasi orang-orang Israel sayap kanan yang ekstrim di Yerusalem Timur, ancaman penggusuran paksa keluarga-keluarga Palestina di permukiman Sheikh Jarrah oleh pemukim Yahudi, serta bentrokan antara polisi Israel dan jemaah Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa.


Keputusan pemimpin Palestina Mahmoud Abbas untuk membatalkan pemilu Palestina yang telah dijadwalkan sebelumnya, yang sedianya merupakan pemilu pertama dalam 15 tahun, juga telah meningkatkan rasa frustrasi.


Berdasarkan perjanjian perdamaian dengan Israel Tahun 1994, Yordania merupakan pengampu lokasi-lokasi suci bagi warga Muslim dan Yahudi di Yerusalem. Diplomat tinggi Yordania, Ayman Safadi, yang awal pekan ini berada di Washington DC menyerukan deeskalasi ketegangan.


"Kami telah mengatakan di Yordania, bahwa Yerusalem merupakan batas atau garis merah, mempertahankan perdamaian dan stabilitas di Yerusalem merupakan kunci utama. Tujuan kami saat ini adalah memastikan bahwa eskalasi ini berhenti," katanya.


Mantan Menteri Luar Negeri Yordania Marwan Muasher mengatakan pada stasiun televisi CNN, ia pesimistis dengan prospek deeskalasi itu.


"Saat ini ada 250.000 pemukim di Yerusalem Timur saja. Ketika kita bicara tentang solusi dua negara, bagaimana kita akan memisahkan kedua komunitas ini? Jika masyarakat internasional serius membantu tercapainya sebuah solusi politik, maka pendudukan Israel harus diakhiri. Kami sudah melihat pergeseran sikap Palestina terhadap tuntutan persamaan hak di daerah-daerah yang mereka tinggali," tukas Marwan.


Analis Yordania Labib Kamhawi mengatakan pada VOA, warga Palestina di Yerusalem telah menarik perhatian dunia akan penderitaan mereka, setelah pemerintah mantan Presiden Donald Trump menutup-nutupi hal itu selama empat tahun terakhir. Presiden Joe Biden sedang berkonsentrasi pada Iran, Tiongkok, dan perubahan iklim, tetapi kini Israel dan Hamas meningkatkan eskalasi.


"Amerika kini harus melakukan sesuatu. Hamas menembakkan rudal, akibatnya situasinya menguntungkan Netanyahu. Kalau Hamas tidak begitu situasinya menguntungkan pihak Palestina di Yerusalem. Amerika akan menekan Israel untuk melakukan pembalasan yang cepat, dan mengakhiri konflik ini sehingga Amerika siap memainkan peran yang lebih aktif," ujarnya.


Meskipun Amerika telah mengirim Wakil Menteri Luar Negeri Hady Amr untuk melangsungkan pertemuan dengan para pemimpin Israel dan Palestina guna meredakan ketegangan, pengamat politik di Carnegie Endowment for International Peace Sara Yerkes mengatakan "pengaruh Amerika terbatas karena tidak memiliki saluran komunikasi langsung dengan Hamas."


"Hamas tampaknya akan sedikit merugi jika terus melanjutkan agresi terhadap Israel, karena Amerika tidak akan mengurangi dukungannya bagi Israel," imbuh Yerkes pada surat kabar The National di Dubai.


Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan tidak akan menghentikan operasi militer di Gaza hingga ketenangan total tercapai di kawasan itu. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Tulis komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama

Video