Indomedia.co -
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengundurkan diri, kurang dari 18 bulan masa jabatannya, Senin, 16 Agustus 2021. Ia menjadi pemimpin negara itu dengan kekuasaan terpendek setelah mengakui bahwa ia kehilangan dukungan mayoritas untuk memerintah.


Pengunduran diri Muhyiddin terjadi di balik meningkatnya kemarahan publik atas apa yang secara luas dianggap sebagai penanganan pandemi yang buruk oleh pemerintahnya.


Dilansir dari VOA Indonesia, Malaysia memiliki salah satu tingkat infeksi dan kematian per kapita tertinggi di dunia, dengan kasus harian menembus 20.000 bulan ini meskipun telah diberlakukan keadaan darurat selama tujuh bulan dan lockdown sejak Juni untuk mengatasi krisis.


Baca: Taliban Kuasai Kembali Afghanistan


Muhyiddin menghentikan parlemen selama berbulan-bulan tahun lalu untuk menggalang dukungan. Dia kembali menangguhkan parlemen sejak Januari dan memerintah dengan peraturan tanpa persetujuan legislatif di bawah keadaan darurat virus corona yang berakhir 1 Agustus.


Ringgit Malaysia Jatuh


Mata uang ringgit Malaysia sebelumnya jatuh ke level terendah dalam satu tahun dan pasar saham turun.


Belum jelas siapa yang bisa membentuk pemerintahan berikutnya, mengingat tidak ada yang memiliki mayoritas yang jelas di parlemen, atau apakah pemilu dapat diadakan selama pandemi.


Keputusan konstitusional mungkin akan diserahkan kepada Raja Al-Sultan Abdullah, yang dapat menunjuk seorang perdana menteri dari kalangan anggota parlemen terpilih. Raja akan menunjuk orang yang menurutnya paling mungkin memimpin mayoritas. (***)

Editor: Suwardi Sinaga

Tulis komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama

Video