aulia andri

Indomedia.co
- Ketua DPD Pujakesuma Kota Medan Aulia Andri menilai tidak ada yang perlu diributkan soal pernyataan Susaningtyas Nefo Kertopati terkait lembaga pendidikan dan bahasa Arab.


Hal itu disampaikan Susaningtyas dalam diskusi virtual bertajuk 'Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?', sebagaimana dilihat pada Jumat, 10 September 2021. Dalam diskusi tersebut, Susaningtyas menyebut banyak lembaga pendidikan yang berkiblat ke Taliban.


"Saya kenal baik Mbak Nuning ini. Dia tak akan punya maksud menyudutkan Islam atau lembaga pendidikan yang diduga berkiblat ke Taliban. Sebagai muslimah yang taat, saya yakin Mbak Nuning menyampaikan temuan dari risetnya tentang embrio terorisme (radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang diutarakannya pada webinar tersebut," kata Aulia Andri, Jumat, 10 September 2021.


Baca: PDI Perjuangan: Megawati Dalam Keadaan Sehat, Energik, dan Bersemangat


Lebih lanjut Aulia memaparkan sosok Nuning Kertopati sebagai sosok yang taat beragama. Bahkan disebutkannya, sebagai periset di bidang militer dan intelijen, Nuning telah banyak memberikan sumbangsih pemikiran sebagai early warning pada pihak intelijen. 


"Beliau muslimah yang taat. Tak patut kita menuduh dan menyudutkannya karena kesalahpahaman dan ketidakutuhan dalam memahami argumentasinya," kata Aulia yang merupakan mantan Anggota Bawaslu Sumut. 


Nuning Kertopati sendiri juga sudah melakukan klarifikasi terhadap berbagai informasi terkait pernyataannya. 


Berikut klarifikasi lengkap Susaningtyas:


Sehubungan dengan simpang siurnya pemberitaan terkait penjelasan saya pada webinar yang diselenggarakan Medcom maka saya merasa perlu meluruskannya.


Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama, bahkan juga dengan umat beragama lain. Islam rahmatan lil alamin. Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme.


Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme (radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut.


Tentu saja tidak semua lembaga pendidikan berbasis muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.


Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini.


Adapun permasalahan meruncing karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalahpahaman kepada saya.


Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adiluhung dan rasa cinta Tanah Air, Indonesia. Sehingga, tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak, serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam bela negara.


Terkait dengan Bahasa Arab. Tentu saya sangat respect dengan bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita, bahasa Indonesia. Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya.


Sebagai catatan, memang saya pun sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi menangnya Taliban di Afganistan oleh sel-sel tidur terorisme di sini. Terkait hal ini tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya saja.


Demikian keterangan saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan sehat walafiat. Amin. (Suwardi Sinaga)

Editor: Suwardi Sinaga

Tulis komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama

Video