Indomedia.co - Memasuki musim tanam padi, petani di Kecamatan Angkola Muaratais, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, resah. Pasalnya, pupuk urea bersubsidi dari pemerintah belum juga ada. Sementara harga pupuk urea nonsubsidi terus merangkak naik.

 

"Untuk pupuk urea bersubsidi dari pemerintah sudah setengah tahun ini tidak ada masuk ke kelompok tani kami. Padahal kami sudah mengajukan ke pemerintah," ujar Tambunan, Anggota Kelompok Tani Sempurna Jaya, Desa Sipangko, Kecamatan Angkola Muaratais.

 

Keresahan petani ini diperparah dengan kenaikan harga pupuk nonsubsidi. Seperti pupuk NPK komplit naik 3 ribu rupiah per kilogram dari 13 ribu menjadi 16 ribu rupiah. Pupuk NPK dari 10 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah perkilogram. NPK naik dari 10 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah perkilogram. Kenakan harga tertinggi terjadi pada Pupuk KCL, naik 100 persen dari 7 ribu rupiah menjadi 14 ribu rupiah per kilogram.

 

Baca: Petani di Tapsel Keluhkan Kenaikan Harga Pupuk


Sementara itu, petani lainnya Ismail  mengeluhkan susahnya mendapatkan pupuk bersubsidi.

 

"Aneh juga, ada kelompok tani yang dapat pupuk bersubsidi tapi harganya naik tinggi. Dulu 120 ribu rupiahnya satu zak, tapi sekarang udah 200 ribu rupiah," ujar Ismail.

 

Akibat langkanya pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk non subsidi membuat petani resah untuk musim tanam kali ini.

 

Akan Panggil Distributor


Kadis Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan Ir Bismark Muaratua Siregar yang dikonfirmasi melalui aplikasi pesan singkat pada Selasa, 16 November 2021, menyampaikan pihaknya akan memanggil distributor Pupuk.

 

"Kita akan panggil distributor" ujar Bismark singkat.

 

Sebenarnya, Bupati Tapanuli Selatan telah membentuk Komisi Pembinaan dan Pengawasan Penyaluran Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Tapanuli Selatan, sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Nomor. 188.45/389/KPTS/2021 tertanggal 09 Juni 2021 yang diketuai Sekda Drs Parulian Nasution. Sayangnya pembentukan komisi ini belum menunjukkan hasil yang menguntungkan untuk petani. (Adzan Sinaga)

Editor: Adzan Sinaga

Tulis komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama

Video