Oleh : Rahmat Timbul Halomoan Lubis 

Nahdlatul Ulama direncanakan menggelar Muktamar Ke-34 pada Desember 2021, dan Lampung telah ditetapkan menjadi maqam bagi pelaksanaan muktamar tersebut. Penetapan Lampung menjadi maqam untuk penyelenggaraan muktamar telah disepakati pada Munas Alim Ulama yang telah dilaksanakan sebelumnya.


Seperti muktamar sebelumnya, muktamar kali ini juga sudah mulai menjadi salah satu trending topic di penghujung Tahun 2021. Berbagai media sudah mulai sibuk dan bergeliat dalam memberitakan berbagai hal seputar muktamar. Pro dan kontra pastinya menjadi salah satu wacana yang hilir mudik menghiasi pramuktamar.


Di beberapa komunitas jemaah NU, ragam diskusi dan wacana terus berkembang secara dinamis dan seolah tidak mengenal batas pergantian siang dan malam.


'Anak Kos' di Rumah Sendiri


Bagi alumni PMII, NU adalah wadah berkhidmat paling induk secara organisatoris. Karena bila dipandang dari kajian historis, PMII tidak bisa lari dari NU. Salah satu pemasok kader terbesar bagi NU adalah PMII. Atas dasar itu, sebuah kewajaran bila alumni PMII berkeinginan untuk bisa menjadi bahagian dari sejarah perhelatan NU pada setiap masa. Dan tidak kecil kemungkinan ingin menjadi Ketua Umum PBNU pada muktamar yang akan datang. Motivasi ini juga dipicu dengan masuknya para tokoh yang bila dilihat dari sejarahnya merupakan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Seolah tidak ingin menjadi "anak kos" di rumah sendiri, alumni PMII terus berpacu dalam berkhidmat di NU.


Masalah PMII dan HMI, di saat almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Umum PBNU pernah berniat ingin menyatukan PMII dan HMI karena beliau merasa bahwa kedua organisasi kemahasiswaan tersebut adalah anak NU. Niatan tersebut sampai saat ini belum terwujud disebabkan banyak faktor.


Sepertinya, niat baik para alumni PMII itu terbantahkan dengan sendirinya disebabkan diantara para calon Ketua Umum PBNU yang saat ini muncul dan mencuat tidak ditemukan alumni PMII. KH Said Aqil Siradj bukanlah alumni PMII, KH Yahya Staquf juga bukan alumni PMII malah beliau merupakan salah satu alumni HMI.


Baca: Khataman Selawat Nariyah Akan Dihadiri Ulama Hingga Umara


Antara KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Staquf jelas tidak ada yang alumni PMII. Maka terkait fanatisme organisasi kemahasiswaan telah bisa diselesaikan secara sederhana, sekalipun harus diakui bahwa Gus Yaqut (Yaqut Cholil Chaumas) Ketua Umum PP GP Ansor hari ini dan Menteri Agama saat ini adalah adik kandung dari KH Yahya Staquf. Gus Yaqut adalah alumni PMII, sedangkah Gus Yahya (KH Yahya Staquf) adalah alumni HMI.


KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Staquf saat ini memiliki jabatan yang sangat strategis di internal PB NU. Keduanya juga mengemban amanah berupa jabatan strategis dalam pemerintahan saat ini. Kedua tokoh ini juga punya kesamaan dalam sisi budaya dan kultur pesantren, sisi akademik dan intelektual serta kesamaan lainnya.


Cara dan metodologi berpikirnya juga hampir mirip layaknya tokoh NU yang lain, moderat dan cenderung mengutamakan kebijaksanaan. Pemahaman keagamaan juga tidak diragukan lagi kecuali bagi golongan yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan keduanya. Banyak kemiripan diantara kedua tokoh ini. Hanya saja KH Said Aqil Siradj terlihat lebih bersemangat bila sedang bicara, sedangkan KH Yahya Staquf terkesan lebih santai tetapi tetap bermakna.


Soal pilihan dan dukungan adalah soal rasa dan kenyamanan. Serta soal penetapan yang mungkin hasil istikharah masing-masing muktamirin. Wallahu a'lam bisshawaf. (***)


Penulis adalah Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kota Padangsidimpuan

1 Komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Posting Komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama

Video