Indomedia.co - Petani Karet atau getah di Tapanuli Selatan Sumatera Utara, mengeluhkan harga beras yang terus semakin mahal, sementara harga karet yang menjadi sumber pendapatan petani terus merosot.

"Harga karet cuma 4.500 rupiah satu kilo, sementara beras sudah 48 ribu satu tabung..... Alaleeeeeeee " keluh Aswadi, petani karet asal Desa Sipangko Kecamatan Angkola Muratais, Senin 12 September 2022.

Baca: Harga Karet Rakyat Turun Drastis di Tapanuli Selatan

Harga Beras Naik di Tapsel dan Padangsidimpuan

Kurang Gabah, Kilang Padi Berhenti Berproduksi di Tapanuli Selatan

Harga karet rakyat dalam sebulan terakhir turun drastis di Kecamatan Angkola Muaratais. Awal bulan Agustus lalu, karet rakyat yang disadap dan dijual dalam satu hari, masih berharga 9 ribu rupiah. Namun saat ini cuma 4.500 rupiah per kilogramnya.

"Penghasilan kita makin jauh berkurang untuk menghidupi keluarga" lanjut Aswadi bapak 3 orang anak ini.

Dengan luas karet setengah hektar dan jumlah pohon karet 200 batang, Aswadi bisa menghasilkan 50 hingga 60 kilogram getah kering per minggu.

Seharusnya, dengan harga 10 ribu per kilogram, Aswadi bisa memperoleh 500 hingga 600 ratus ribu rupiah per minggu. Namun, dengan harga saat ini yang hanya 4.500 per kilogram, Aswadi hanya memperoleh 300 rupiah per minggunya.

Turunnya harga karet ini, justru berbanding terbalik dengan harga beras kualitas lokal yang naik hingga 48 ribu rupiah per tabung di tingkat warung. Padahal dua minggu lalu masih di level 40 ribu rupiah.

"Harus dapat 14 kilo karet biar dapat satu tabung beras. Itupun berasnya ndak enak karena bercampur" lanjut Aswadi.

Naiknya harga beras ini, akibat sejumlah kilang padi atau mesin gilingan padi di Tapanuli Selatan, berhenti berproduksi karena kekurangan gabah dari petani. Pemilik kilang mengakui, saat ini stok beras di gudang mereka semakin menipis. (AS)

Editor: Azan Sinaga

Komentar

Komentar pembaca tidak menjadi bagian dari tanggung jawab Redaksi

Lebih baru Lebih lama