Buka Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia, AHY Harap GPI Tetap Jadi Kompas Moral Masyarakat

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, resmi membuka Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia 2026, di Gedung Rajawali, Pematangsiantar, Jumat sore, 3 Juli 2026. (Istimewa)
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, resmi membuka Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia 2026, di Gedung Rajawali, Pematangsiantar, Jumat sore, 3 Juli 2026. (Istimewa)



Indomedia.co - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), resmi membuka Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) 2026 di Gedung Rajawali, Pematangsiantar, Jumat sore, 3 Juli 2026.

Menyoroti tema sinode tahun ini, yakni "Mengambil Bagian dalam Pertandingan Menguasai Diri untuk Mahkota Abadi", AHY berharap agar GPI terus berperan sebagai "kompas moral" bagi masyarakat. Menurutnya, hal ini krusial di tengah arus digitalisasi yang masif, krisis iklim, serta gejolak ekonomi global.

"Di tengah dinamika global hari ini, masyarakat membutuhkan arahan moral yang bersifat teologis. Peran pelayanan spiritual dan sosial GPI sangat krusial agar kita tidak mudah goyah oleh materialisme dan tantangan zaman," tuturnya.

Dalam sambutannya, AHY juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi GPI yang konsisten menjaga nilai-nilai kemanusiaan sejak berdiri pada 1936. Ia juga menyoroti peran strategis GPI di bidang pendidikan, khususnya terkait rencana transformasi Sekolah Tinggi Teologi Renatus menjadi Institut Agama Kristen Renatus, hingga target pengembangan menjadi universitas berbasis teologi.

"Saya mendorong penuh upaya ini untuk mencetak generasi penerus yang unggul. Ini adalah langkah yang baik, di mana kita bisa mengawal bersama lahirnya universitas berbasis teologi yang mampu menyeimbangkan nilai nasionalisme, kebangsaan, serta religiusitas," ujar AHY.

Lebih lanjut, AHY mengajak GPI untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen bangsa. Ia menekankan bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dijaga untuk mencapai kesejahteraan bersama.

"Tidak perlu mempertentangkan nilai nasionalisme dengan agama. Semua agama memiliki tujuan yang sama untuk kebaikan bangsa ini," pungkasnya. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler