Gus Hery Haryanto Azumi
Gus Hery Haryanto Azumi. (Istimewa)

Oleh: Adriansyah S.Sos, M.A.

Saya mengenal Gus Hery Haryanto Azumi sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap organisasi, para kader, dan kalangan ulama. Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika beliau menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU

Pada masa itu, suasana di lingkungan PBNU terasa begitu dinamis. Ruangan Gus Hery hampir setiap hari dipadati oleh kader, alumni PMII, kiai, pengurus pesantren, pengurus madrasah, sampai konglomerat kelas kakap yang datang untuk bersilaturahmi, berdiskusi, maupun menyampaikan berbagai aspirasi. Kehadiran mereka mencerminkan kedekatan Gus Hery dengan para aktivis Nahdlatul Ulama dan lintas kelompok, kemampuannya membangun komunikasi lintas batas jarang dimiliki kader muda NU rata-rata.

Hal lain yang juga membekas dalam ingatan saya adalah perhatian beliau terhadap orang-orang yang bekerja di lingkungan PBNU. Saya melihat para petugas kebersihan di seluruh lantai gedung PBNU turut merasakan kebahagiaan karena memperoleh  uang tambahan yang dibagikan melalui staf Gus Hery. Bagi saya, hal tersebut menunjukkan kepedulian beliau kepada mereka yang sering kali berada di balik layar, namun memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas organisasi.

Dalam bidang penguatan keulamaan, saya juga mengetahui bahwa Gus Hery Haryanto Azumi memberikan dukungan bagi penyelenggaraan Halaqah Ulama. Menurut pengamatan saya, kegiatan tersebut menjadi salah satu ikhtiar penting dalam memperkuat konsolidasi ulama di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pada masa itu, figur KH Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU menjadi tampak semakin menonjol dan memperoleh ruang yang luas untuk menyampaikan pandangan serta kepemimpinannya di tengah umat.

Bagi saya, Gus Hery Haryanto Azumi merupakan sosok yang memahami pentingnya membangun organisasi tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui pendekatan kemanusiaan, dukungan terhadap kader, serta perhatian kepada para ulama. Pengalaman mengenal beliau menjadi bagian dari perjalanan yang memberikan kesan mendalam tentang arti kepemimpinan yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Gus Hery Menjadi Sekjen Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) 

Saat Gus Hery Haryanto Azumi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW), saya melihat organisasi ini aktif mengembangkan dakwah yang memadukan nilai-nilai spiritual dengan semangat kebangsaan. Berbagai kegiatan tidak hanya berisi dzikir dan doa bersama, tetapi juga menjadi ruang mempertemukan ulama, habaib, tokoh masyarakat, pemerintah, serta berbagai elemen bangsa. Pendekatan tersebut menonjolkan pesan bahwa Islam dan cinta tanah air berjalan beriringan.

Dzikir Kebangsaan, termasuk kegiatan di Kompleks Istana Negara menjelang Hari Kemerdekaan RI, yang menghadirkan ribuan jamaah, ulama, habaib, Presiden  dan pejabat negara sebagai bentuk syukur dan doa untuk bangsa. 

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I MDHW pada 2018 yang menghasilkan enam rekomendasi tentang penguatan Islam moderat, persatuan bangsa, sinergi ulama dan umara, serta komitmen menjaga NKRI. Dalam forum ini, Hery Haryanto Azumi membacakan rekomendasi sebagai Sekjen MDHW. 

Halaqah Nasional Alim Ulama yang bertujuan memperkuat komunikasi antara ulama, masyarakat, dan pemerintah serta meneguhkan semangat Hubbul Wathan (cinta tanah air). 

Pertemuan dan silaturahmi kiai serta habaib dalam rangka Dzikir Kebangsaan, sebagai upaya membangun persatuan umat dan mempererat ukhuwah. 

Istighotsah NKRI dan Haul Akbar bekerja sama dengan berbagai pesantren dan yayasan, yang dipadukan dengan kegiatan kebudayaan sebagai media memperkuat persaudaraan kebangsaan. 

Penguatan dakwah Islam moderat, termasuk mendorong lahirnya jaringan penceramah yang menyampaikan pesan Islam damai, toleransi, dan cinta tanah air. 

Secara umum, kepemimpinan Gus Hery Haryanto Azumi sebagai Sekjen MDHW dikenal menekankan tiga hal utama: dzikir sebagai penguatan spiritual dan penguatan persatuan nasional melalui Hubbul Wathan serta sinergi antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keutuhan Indonesia.

Gus Hery Ideolog Kader-kader PMII 

Paradigma "Menggiring Arus Berbasis Realitas" merupakan gagasan yang diperkenalkan oleh Hery Haryanto Azumi (Gus Hery) saat menjabat Ketua Umum PB PMII periode 2006–2008. Paradigma ini lahir sebagai kritik terhadap kecenderungan gerakan PMII yang terlalu menempatkan diri sebagai oposisi atau "melawan arus" tanpa memiliki strategi jangka panjang untuk memenangkan pengaruh. 

Secara sederhana, paradigma ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

 1. Realitas Harus Dibaca Sebelum Diubah

Gus Hery berangkat dari asumsi bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan hanya dengan idealisme. Aktivis harus mampu membaca realitas politik, ekonomi, sosial, dan global secara objektif. Karena itu paradigma ini disebut berbasis realitas, bukan berbasis angan-angan atau romantisme gerakan. 

2. Bukan Melawan Arus, Tetapi Menggiring Arus

Paradigma ini menolak dua sikap ekstrem:

Mengikuti arus, yaitu menerima keadaan apa adanya atau melawan arus secara frontal, yaitu menghabiskan energi untuk perlawanan yang tidak menghasilkan perubahan strategis.

Sebaliknya, PMII harus masuk ke dalam arus perubahan, memahami arah geraknya, kemudian mengarahkan arus tersebut agar sesuai dengan cita-cita keadilan, kebangsaan, dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan kata lain, perubahan dilakukan melalui penguasaan ruang-ruang strategis, bukan hanya sekedar melalui demonstrasi atau kritik. 

3. Menggunakan Perspektif Sistem Dunia

Salah satu landasan teorinya adalah teori sistem dunia (World-Systems Theory) dari Immanuel Wallerstein. Dalam pandangan ini, dunia dipengaruhi oleh struktur ekonomi-politik global yang membagi negara menjadi pusat (core), semi-periferi, dan periferi. Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari sistem tersebut, sehingga strategi gerakan bukan menghancurkan sistem global secara langsung, melainkan memanfaatkan peluang di dalamnya untuk memperkuat posisi bangsa. 

4. Orientasi Pada Kemenangan Strategis

Paradigma Menggiring Arus mendorong kader PMII untuk:

a. Menguasai ilmu pengetahuan.

b. Membangun jaringan.

c. Masuk ke lembaga negara, akademik, media, ekonomi, dan masyarakat sipil.

d. Membentuk opini publik.

e. Memengaruhi proses pengambilan kebijakan.

Dengan demikian, gerakan tidak berhenti pada kritik, tetapi menghasilkan pengaruh nyata terhadap arah pembangunan bangsa. 

5. Sejarah Sebagai Modal, Bukan Nostalgia

Gus Hery memandang bahwa sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk membaca kondisi hari ini dan menyusun strategi masa depan. Karena itu kader harus mampu menghubungkan pengalaman historis dengan realitas kontemporer agar tidak terjebak dalam gerakan yang reaktif dan sesaat. 

Dalam diskusi langsung dengan dengan saya, muncul kalimat dari Gus Hery:

"Perubahan tidak dicapai dengan sekadar melawan arus zaman, melainkan dengan memahami arah arus, masuk ke dalamnya, lalu mengarahkannya agar berpihak pada kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan."

Visi Nasional dan Internasional

Saya memandang bahwa gagasan Gus Hery Haryanto Azumi untuk menghidupkan kembali International Conference of Islamic Scholars (ICIS) merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. ICIS adalah warisan intelektual almarhum KH. Hasyim Muzadi yang pernah menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai pusat diplomasi Islam dunia, mempertemukan para ulama, cendekiawan, dan pemimpin lintas negara untuk membangun perdamaian, moderasi, dan kerja sama peradaban. Menghidupkan kembali ICIS berarti mengembalikan peran NU sebagai kekuatan moral dan intelektual Islam yang berpengaruh di tingkat global.

Di sisi lain, Gus Hery pernah menyampaikan gagasan membentuk Komite Kaderisasi, Komite Politik, dan Komite Ekonomi, ini merupakan ikhtiar untuk memperkuat kapasitas organisasi dalam menjawab tantangan abad kedua NU. Kaderisasi harus menjadi fondasi utama agar lahir pemimpin-pemimpin yang berintegritas, berilmu, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Komite Politik diperlukan bukan untuk membawa NU ke dalam politik praktis, melainkan untuk memperkuat literasi kebangsaan, menyiapkan kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan publik, serta memastikan kontribusi NU terhadap kehidupan berbangsa tetap berjalan dalam koridor khittah. Sementara itu, Komite Ekonomi menjadi instrumen penting untuk mengonsolidasikan potensi ekonomi warga Nahdliyin, memperkuat kemandirian pesantren, mengembangkan kewirausahaan, serta membangun ekosistem ekonomi umat yang berkeadilan.

Dengan demikian, kebangkitan ICIS dan pembentukan komite-komite strategis tersebut bukan sekadar penataan organisasi, melainkan bentuk mobilisasi sumber daya gerakan NU. NU memiliki modal sosial, modal intelektual, modal kultural, dan jaringan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu dapat diorganisasikan secara profesional, terukur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, bangsa, serta kontribusi bagi peradaban dunia.

Apabila langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, transparan, dan berbasis pada tradisi keilmuan serta nilai-nilai ke-NU-an, saya meyakini NU akan semakin kokoh sebagai organisasi keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang mampu memimpin perubahan, sekaligus melanjutkan cita-cita besar para muassis dan para tokoh seperti KH. Hasyim Muzadi dalam membawa NU berkiprah di tingkat nasional maupun global.

Islam Nusantara sebagai Visi Geopolitik

Saya memandang bahwa upaya Gus Hery Haryanto Azumi untuk menyempurnakan gagasan KH Said Aqil Siradj mengenai Islam Nusantara merupakan langkah intelektual yang menarik dan layak didiskusikan. Jika selama ini Islam Nusantara lebih sering dipahami sebagai corak keberislaman yang ramah, moderat, menghargai budaya lokal, dan menjaga harmoni kebangsaan, maka gagasan penyempurnaan tersebut menawarkan horizon yang lebih luas: Islam Nusantara sebagai visi peradaban.

Dalam pandangan saya, Islam Nusantara tidak boleh berhenti sebagai slogan, identitas, atau jargon yang hanya muncul dalam ruang-ruang seminar dan diskursus. Sebuah gagasan besar akan kehilangan daya hidup apabila tidak diterjemahkan menjadi arah pembangunan masyarakat, negara, dan peradaban. Karena itu, saya melihat bahwa Islam Nusantara perlu memiliki orientasi strategis yang mampu menjawab tantangan zaman.

Visi geopolitik yang ditawarkan Gus Hery Haryanto Azumi menarik karena menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, tetapi sebagai pusat lahirnya model peradaban Islam yang relevan bagi dunia. Geopolitik dalam konteks ini bukan semata-mata persoalan kekuatan militer atau perebutan pengaruh, melainkan kemampuan membangun posisi strategis melalui diplomasi, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan moral.

Islam Nusantara memiliki modal yang kuat untuk memainkan peran tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa Islam berkembang di Nusantara melalui jalan dakwah, perdagangan, pendidikan, dan akulturasi budaya, bukan melalui pemaksaan. Tradisi ini melahirkan karakter Islam yang menghargai keberagaman, mengedepankan musyawarah, dan mampu berdialog dengan berbagai peradaban. Nilai-nilai tersebut justru menjadi aset penting dalam dunia yang semakin menghadapi polarisasi, konflik identitas, dan krisis kemanusiaan.

Menurut saya, penyempurnaan konsep Islam Nusantara harus diarahkan pada pembangunan peradaban yang konkret. Artinya, Islam Nusantara harus menjadi inspirasi bagi lahirnya kemajuan ilmu pengetahuan, penguatan ekonomi umat, tata kelola pemerintahan yang berkeadilan, pengembangan teknologi, pelestarian lingkungan, hingga diplomasi internasional yang berlandaskan nilai kemanusiaan. Dengan demikian, Islam Nusantara tidak hanya menjadi narasi kebudayaan, tetapi juga menjadi paradigma pembangunan.

Pada saat yang sama, visi geopolitik tersebut tetap perlu dibangun secara inklusif. Indonesia merupakan negara yang majemuk, sehingga kontribusi Islam Nusantara terhadap pembangunan peradaban akan semakin kuat apabila diposisikan sebagai nilai yang berdialog dengan Pancasila, konstitusi, serta semangat persatuan nasional. Dalam kerangka ini, Islam Nusantara bukanlah proyek eksklusif bagi umat Islam, melainkan salah satu kontribusi intelektual Indonesia bagi peradaban dunia.

Pada akhirnya, saya melihat bahwa gagasan Gus Hery Haryanto Azumi merupakan upaya memperluas cakrawala pemikiran Islam Nusantara dari identitas menuju strategi peradaban. Jika KH. Said Aqil Siradj telah meletakkan fondasi konseptual Islam Nusantara sebagai wajah Islam yang damai, moderat, dan berakar pada budaya Nusantara, maka penyempurnaan yang mengarah pada visi geopolitik dapat menjadi ikhtiar untuk menjadikan Islam Nusantara sebagai kekuatan yang tidak hanya menjaga harmoni di dalam negeri, tetapi juga berkontribusi dalam membangun peradaban global yang lebih adil, damai, dan bermartabat.

Dengan majunya Gus Hery Haryanto Azumi menjadi Ketua Umum PBNU, adalah langkah yang sangat tepat dan paling ditunggu-tunggu oleh kader-kader muda NU. ***

Penulis adalah Kader Penggerak PMII/Alumni PKN PMII

Tag Terpopuler