Dosen Bahasa Indonesia FKIP UMSU Bedah Buku Sastrawan Nasional

Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU, Yulhasni, S.S., M.Si., tampil sebagai pembicara dalam bedah buku kumpulan puisi Sebuah Kota Sebuah Umpama karya Ubaidillah Al Anshori, di Toko Gramedia Medan, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Istimewa)
Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU, Yulhasni, S.S., M.Si., tampil sebagai pembicara dalam bedah buku kumpulan puisi Sebuah Kota Sebuah Umpama karya Ubaidillah Al Anshori, di Toko Gramedia Medan, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Istimewa)

Indomedia.co - Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Yulhasni, S.S., M.Si., tampil sebagai pembicara dalam bedah buku kumpulan puisi Sebuah Kota Sebuah Umpama karya Ubaidillah Al Anshori. Kegiatan berlangsung di Toko Gramedia Medan, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Ubaidillah Al Anshori adalah sastrawan nasional yang dikenal lewat puisi-puisi naratifnya. Ia juga alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU.

Selain Yulhasni, bedah buku ini menghadirkan sastrawan Sumatera Utara Hasan Al Banna dan Titan Sadewo. Titan juga alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Acara ini merupakan bagian dari agenda Semesta Buku yang digagas Gramedia Medan.

Dalam paparannya, Yulhasni menilai Ubai, sapaan akrab sang penyair, bermain dengan kata benda dan kata kerja dalam kepengrajinan puisinya.

“Kata benda menjadi rujukan suatu masa, memori, atau tempat, sedangkan kata kerja menjadi penggerak yang menarik yang lampau sekaligus menatap yang kini,” ujarnya.

Menurut Yulhasni, di situlah kepengrajinan seorang penyair paling kentara.

“Kata benda memberi puisi pijakan, kata kerja memberinya arah. Penyair yang matang tahu kapan harus menahan dan kapan harus menggerakkan,” katanya.

Yulhasni menyebut kata benda sebagai jangkar. Rumah, tiang, jendela, kota, sungai, dan surau membawa lapisan waktu sekaligus lapisan tempat. Penyair yang cermat, katanya, memilih benda yang spesifik karena kekhususan itulah yang membuat pembaca percaya. Ia mencontohkan frasa “rumah panggung berjendela kisi-kisi” yang menghadirkan sebuah dunia, sedangkan “tempat tinggal” hanya menyebut golongan.

Dari pembacaannya, Yulhasni menguraikan lima hal yang ditawarkan Ubai tentang tempat dalam kumpulan puisi tersebut. Kelima hal tersebut menggambarkan kepenyairan Ubai Dillah dalam bersastra sejak kuliah di UMSU.

Sementara itu, Hasan Al Banna mengungkapkan bahwa Ubai banyak belajar dari para sastrawan Sumatera Barat. Ia mengaku Ubai menjalani proses kepenyairan yang cukup panjang hingga akhirnya dikenal sebagai sastrawan nasional seperti sekarang.

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dan masyarakat umum. Peserta yang hadir mayoritas mahasiswa FKIP UMSU yang tergabung dalam Komunitas KOPI SUHI FKIP UMSU. KOPI SUHI adalah komunitas yang digagas Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Afiv Toni Saragih, dan Sekretaris Program Studi, Khairul Anam.

Wakil Dekan III FKIP UMSU, Mandra Saragih, mengatakan kehadiran mahasiswa KOPI SUHI pada kegiatan tersebut bertujuan menambah wawasan sastra dan memperkuat literasi. Menurutnya, sejak didirikan KOPI SUHI telah banyak berkiprah.

“Kita mendukung sekali kegiatan KOPI SUHI,” kata Mandra. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga

Post a Comment

Komentar pembaca bukan bagian dari tanggung jawab redaksi.

Lebih baru Lebih lama