Iran Hantam Lima Pangkalan Militer Israel dalam Perang 12 Hari
indomedia.co - Data radar terbaru yang diperoleh The Telegraph menunjukkan bahwa lima fasilitas militer Israel terkena langsung serangan rudal Iran dalam konflik bersenjata yang berlangsung selama 12 hari baru-baru ini.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa serangan itu belum diumumkan secara resmi oleh otoritas Israel dan tidak dapat dilaporkan dari dalam negeri karena ketatnya undang-undang sensor militer.
Data tersebut dibagikan oleh akademisi dari Oregon State University, AS, yang mengkhususkan diri dalam analisis kerusakan akibat konflik menggunakan citra radar satelit. Menurut temuan mereka, enam rudal Iran menghantam lima lokasi militer di wilayah utara, selatan, dan tengah wilayah pendudukan. Sasaran tersebut termasuk sebuah pangkalan udara utama, pusat intelijen, dan fasilitas logistik.
Ketika dimintai tanggapan oleh The Telegraph pada Jumat, 4 Juli 2025, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menolak memberikan komentar terkait tingkat keberhasilan intersepsi rudal atau tingkat kerusakan pada pangkalan mereka.
"Yang bisa kami sampaikan adalah seluruh unit terkait tetap berfungsi selama operasi berlangsung," ujar juru bicara IDF dilansir dari Kantor Berita Tasnim, Minggu, 6 Juli 2025.
Serangan terhadap fasilitas militer tersebut merupakan tambahan dari 36 serangan lain yang diketahui berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur perumahan dan industri.
Menurut laporan tersebut, serangan rudal Iran juga mencakup:
- Tujuh serangan terhadap fasilitas minyak dan pembangkit listrik
- Kerusakan pada sebagian Institut Weizmann, pusat penelitian ilmiah terkemuka Israel
- Kerusakan besar di Pusat Medis Universitas Soroka, yang terletak di dekat kampus Universitas Ben-Gurion di Be'er Sheva
- Serangan terhadap tujuh kawasan permukiman padat yang menyebabkan lebih dari 15.000 warga Israel kehilangan tempat tinggal.
Analisis The Telegraph mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar rudal Iran berhasil dihadang, proporsi rudal yang lolos meningkat dalam delapan hari pertama konflik. Para ahli menyebut kemungkinan penyebabnya termasuk keterbatasan stok rudal intersepsi Israel, peningkatan taktik peluncuran Iran, dan penggunaan rudal yang lebih canggih.
Sistem pertahanan udara Israel terdiri dari beberapa lapis: Iron Dome (untuk proyektil jarak pendek), David's Sling (untuk rudal menengah dan drone), serta Arrow (untuk rudal balistik jarak jauh). Selama konflik, sistem ini juga diperkuat oleh dua unit pertahanan rudal AS berbasis darat THAAD dan sistem intersepsi berbasis kapal di Laut Merah.
AS dilaporkan meluncurkan sedikitnya 36 rudal intersepsi THAAD selama perang, masing-masing bernilai sekitar 12 juta dolar AS.
Terobosan terhadap sistem pertahanan udara Israel yang selama ini dikenal canggih mengejutkan publik. Pihak berwenang bahkan mengeluarkan pernyataan resmi bahwa sistem mereka "tidak kedap sepenuhnya".
Kondisi 15.000 warga yang kehilangan tempat tinggal menjadi sorotan, karena mereka kini ditampung di hotel-hotel di wilayah pendudukan.
Dalam negeri, kecurigaan bahwa sejumlah fasilitas militer telah menjadi sasaran serangan terus meningkat. Jurnalis senior Channel 13, Raviv Drucker, mengatakan pekan lalu, "Banyak rudal (Iran) menghantam pangkalan IDF dan lokasi strategis yang belum kami laporkan sampai saat ini. Orang-orang belum sepenuhnya menyadari betapa presisinya serangan Iran dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan."
Corey Scher, peneliti dari Oregon State University, mengatakan pihaknya tengah menyusun laporan komprehensif mengenai kerusakan akibat rudal baik di Israel maupun Iran, yang akan diterbitkan dalam dua minggu mendatang.
Analisis data menunjukkan bahwa sistem pertahanan gabungan AS-Israel membiarkan sekitar 16 persen rudal lolos pada hari ketujuh konflik — angka yang sejalan dengan estimasi IDF sebelumnya yang mengklaim tingkat keberhasilan 87 persen.
Pejabat Iran mengatakan bahwa kunci untuk menembus sistem pertahanan Israel adalah dengan meluncurkan rudal dan drone secara bersamaan, sehingga sistem pertahanan kewalahan dan kehilangan fokus.
"Tujuan utama dari pengiriman drone bunuh diri adalah untuk membebani sistem pertahanan mereka," ujar seorang pejabat Iran kepada The Telegraph. "Banyak memang yang dihancurkan, tapi tetap menciptakan kekacauan." ***
Baca berita dan artikel Indomedia.co lainnya di Google News
Ikuti berita dan artikel lainnya di Saluran WhatsApp Indomedia.co
Basij Iran Akan Luncurkan Generasi Baru Drone
Ketua Parlemen Iran Desak Penghentian Kejahatan Israel
Kedutaan Besar Swiss Kembali Dibuka di Iran
Yaman Tembakkan Rudal Hipersonik ke Bandara Ben Gurion Israel
Jutaan Warga Iran Peringati Hari Asyura