Resensi Buku Biografi RE Nainggolan The Untold Stories
Totalitas Pengabdian, Sarat Pengalaman, Layak Jadi Teladan
Redaksi - Jumat, 21 November 2025 17:16 WIB
Istimewa
Buku biografi RE Nainggolan.
Oleh: Arifin Saleh Siregar
Dekan FISIP UMSU dan Pembaca Buku
Kamis, 20 November 2025, bedah buku berjudul "Keyakinan, Perjuangan, dan Pengabdian; Sebuah Biografi RE Nainggolan The Untold Stories", digelar di Mini Hall Kampus Utama Unpri, Jalan Sampul, Kota Medan. Hadir sebagai pembedah, Bersihar Lubis (wartawan senior), Dr. Arifin Saleh Siregar, M.S.P. (Dekan FISIP UMSU), dan Dr. Fajar Rezeki Ananda Lubis, S.E., M.S.M. (Dekan FE Unpri), dengan moderator Murbanto Sinaga, S.E., M.A. (Dosen FEB USU).
Buku biografi yang menceritakan kehidupan seorang individu (biasanya orang yang terkenal) dan ditulis orang lain dengan sudut pandang orang ketiga, memang selalu menarik. Apalagi kalau penulisnya piawai dan kompeten.
Begitu jugalah dengan buku biografi Rustam Effendy Nainggolan (kerap dipanggil Pak RE) yang ditulis Toga Nainggolan. Banyak sisi menarik dari buku setebal 316 halaman dengan ukuran 14,8 cm x 21 cm dengan warna cover yang sepertinya sengaja dikaburkan.
Toga, selaku penulis yang dikenal memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, berpengalaman, cermat, dan detil berhasil mengungkap sisi-sisi menarik dan sisi yang layak diketahui dan dikedepankan dari RE Nainggolan, sosok yang ditulisnya. Toga juga sangat piawai memilih diksi, merangkai kata, dan menjalin cerita sehingga tidak ada kebosanan membaca buku yang dibagi ke dalam lima bagian ini, plus prolog, epilog, dan sambutan dari empat tokoh.
Maka dalam buku biografi ini meluncurlah dengan runtut dan sistematis perjalanan hidup dari RE Nainggolan yang di akhir karir PNS-nya menjabat sebagai Sekda Provinsi Sumatera Utara. Ia juga pernah jadi Bupati Tapanuli Utara.
Buku ini pun secara mengalir mengungkap berbagai sisi lain dari sosok RE Nainggolan yang di usia 32 tahun sudah jadi kepala dinas. Dari cerita saat anak-anak hingga pensiun, perjuangan, percintaan, kelucuan, kiprah, dedikasi, karir, kerendahan hati, semangat, pengorbanan, kedisiplinan, ketaatan, kepedulian, pengalaman, pemikiran, keteguhan, integritas, keteladanan, hingga pencapaian demi pencapaian.
Selain itu, buku ini juga memuat informasi penting terkait filosofi "pasangan pelangi", pemilihan kepala daerah, pemilihan Gubernur Sumut, rencana pemekaran Provinsi Tapanuli, dan kipahnya di dunia politik, khususnya di Partai Golkar.
Buku biografi ini juga mencerminkan sifat dan karakter yang dimiliki RE Nainggolan. Sejak menjadi pegawai, ia adalah staf yang patuh dan loyal terhadap atasan, di mana pun ia mengabdi. Sejak jadi staf di Kantor Camat Pahae Jae Tahun 1976 sampai menjadi Sekda Provinsi Sumut hingga 2008, ia tetap dikenal sebagai staf yang loyal dan juga mematuhi atasan. Dalam isi buku, contohnya, jelas tertulis bagaimana loyal dan hormatnya kepada Gubernur Sumut pada masa itu, Tengku Rizal Nurdin.
Ia juga sosok yang terbuka dan menghargai keberagaman. Terbukti, ketika menjadi Bupati di Tapanuli Utara, ia mengambil sebuah langkah "berani" dengan mengangkat seorang pegawai muda yang beragama Islam dan suku Minangkabau menjadi lurah di Pasar Siborongborong.
Buku yang akan diluncurkan Jumat malam, 21 November 2025 di Regale Convention Centre, Medan, dalam sebuah acara yang dirangkai dalam perayaan hari ulang tahun ke-75 RE Nainggolan juga menampilkan sosok RE Nainggolan yang apa adanya tapi keingintahuannya tinggi. Berani tampil, berwawasan luas, dan suka membaca. Rendah hati dan tidak ambisius.
Jika melihat kiprah dan perjalanan karir sang tokoh yang dibangun dalam narasi buku biografi ini, sebenarnya sudah mengacu ke beberapa teori yang ada kaitannya dengan birokrasi pemerintahan. Artinya, dalam pekerjaan dan karirnya, RE Nainggolan - menyadariinya atau tidak -, ternyata sudah menerapkan berbagai teori.
Teori yang dimaksud antara lain Teori Pelayan (Stewardship Theory); di mana para pejabat publik adalah "pelayan" yang bertindak demi kepentingan terbaik masyarakat. Teori ini lebih menekankan pada dedikasi dan komitmen untuk melayani kepentingan publik, di mana tindakan mereka diarahkan pada pencapaian tujuan bersama daripada keuntungan pribadi.
Kemudian prinsip Meritokrasi; di mana sistem yang menempatkan seseorang dalam jabatan, posisi, atau kesempatan berdasarkan kemampuan, prestasi, kompetensi, dan integritas, bukan karena faktor kekerabatan, kekayaan, popularitas, atau kedekatan politik.
Bahkan juga 10 prinsip "Reinventing Government" dari David Osborne dan Ted Gaebler; di antaranya Pemerintah milik masyarakat, Pemerintahan yang digerakkan oleh misi, dan Pemerintahan berorientasi pada pelanggan.
Membaca halaman per halaman, kalimat per kalimat yang dibangun, dan mencermati kutipan demi kutipan serta penjelasan yang disajikan penulis, terekam jelas kalau sosok RE Nainggolan selalu menunjukkan totalitas dalam hal pengabdian, sarat dengan pengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas. Ini tentu membuat RE Nainggolan layak untuk diteladani, baik bagi anak muda sekarang, politisi, lebih-lebih untuk Aparatur Sipil Negara (ASN).
Maka, memiliki dan membaca buku ini adalah sebuah kepantasan dan kebanggaan. ***
Baca berita dan artikel Indomedia.co lainnya di Google News
Ikuti berita dan artikel lainnya di Saluran WhatsApp Indomedia.co
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
Berita Terkait
Komentar