Muhammad Safrizal Almalik. (Istimewa)

Indomedia.co -
Muhammad Safrizal Almalik, calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031, menyampaikan pandangan mendasar dan tegas terkait arah kepemimpinan organisasi tertua di Indonesia tersebut.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan, Jumat, 15 April 2026, Safrizal menegaskan landasan pemikirannya yang diambil langsung dari pengalaman sejarah perjalanan NU lebih dari satu abad. 

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Safrizal yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris PCNU Kota Medan periode 2019-2024 serta pengurus PB IKA PMII ini menunjuk rekam jejak emas NU saat berada di bawah pimpinan para ulama besar yang diakui dunia Islam.

Sejarah mencatat, di bawah kepemimpinan pendiri sekaligus arsitek besar NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, organisasi ini menjadi benteng kokoh penjaga ajaran ahlussunnah wal jamaah, sekaligus garda terdepan perjuangan kemerdekaan bangsa.

Demikian pula saat dipimpin oleh KH Abdurrahman Wahid (Gusdur), sosok yang dikenal luas, NU bertransformasi menjadi kekuatan besar penyangga demokrasi, persatuan, dan kemanusiaan yang disegani dunia. 

Begitu juga di era kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, keberkahan dan kestabilan organisasi tetap terjaga, serta manfaatnya terus terasa hingga ke akar rumput.

Menurut Safrizal, apa yang terjadi pada masa-masa emas tersebut bukan kebetulan, melainkan dampak langsung dari kehadiran pemimpin yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.

Lebih jauh, Safrizal mengingatkan bahwa NU tidak cukup dikepalai oleh sosok yang hanya mengandalkan kekuasaan, jabatan, atau kecerdasan administratif semata tanpa ruh dan kedekatan dengan Allah.

Menurutnya, kerusakan fungsi organisasi, pergeseran nilai, hingga perpecahan internal yang kadang terjadi, adalah bukti nyata lemahnya keberkahan dalam kepemimpinan tersebut.

Pandangan inilah yang kemudian menjadi pemicu utama semangat Safrizal untuk maju bertarung memimpin PBNU.

“Kesadaran sejarah dan tanggung jawab untuk menyelamatkan marwah NU itulah yang memanggil saya untuk maju. Saya hadir bukan sekadar mencalonkan diri, tetapi membawa keyakinan bahwa NU butuh pemimpin yang mampu meneruskan jejak para pendiri, menjaga keberkahan, dan memastikan organisasi ini tetap menjadi rahmat bagi semesta alam,” tambahnya.

Dengan latar belakang panjang di organisasi mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa, hingga wilayah, Muhammad Safrizal Almalik kini menawarkan visi besar: mengembalikan NU ke jati dirinya, memulihkan fungsi jam’iyah dan jemaah, serta membawa manfaat nyata bagi agama, bangsa, dan negara di bawah naungan kepemimpinan yang diridai Allah SWT. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga