Kornas JAM PMII, Hasan Basyri Simanjuntak. (Istimewa)



Indomedia.co - Koordinator Nasional (Kornas) Jaringan Alumni Muda Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (JAM PMII), Hasan Basyri Simanjuntak, mengajak seluruh kader PMII, alumni, serta elemen masyarakat untuk menjaga marwah organisasi dan para ulama dengan tidak menjadikan media sosial sebagai ruang saling menyerang akibat perbedaan pandangan maupun dinamika politik organisasi. Menurutnya, perbedaan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan demokrasi, namun tidak boleh mengorbankan persaudaraan dan kehormatan tokoh-tokoh yang selama ini menjadi panutan umat.

Hasan Basyri Simanjuntak menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari tradisi intelektual PMII. Namun, kritik harus disampaikan secara santun, berdasarkan fakta, serta mengedepankan adab. Ia mengingatkan bahwa menyebarkan tuduhan yang belum terbukti atau membuka aib seseorang demi kepentingan kelompok hanya akan melahirkan perpecahan yang merugikan semua pihak.

"Jangan sampai ruang digital berubah menjadi arena fitnah yang menghilangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an yang selama ini kita perjuangkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 2 Juli 2026.

Lebih lanjut, Hasan mengatakan bahwa dinamika menjelang maupun pascamuktamar, musyawarah, atau forum organisasi merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Perbedaan pilihan dan dukungan tidak boleh dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan, apalagi menyeret nama baik para kiai, ulama, dan sesepuh yang telah berjasa membesarkan organisasi. Menurutnya, para tokoh tersebut harus tetap dihormati meskipun terdapat perbedaan pandangan.

Ia juga mengingatkan bahwa kader PMII memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan umat dan memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, serta ukhuwah insaniyah. Karena itu, setiap kader diharapkan mampu menjadi penyejuk di tengah suasana yang memanas, bukan justru memperkeruh keadaan melalui narasi provokatif yang beredar di media sosial.

Menurut Hasan, masyarakat saat ini sangat mudah menilai organisasi dari perilaku kadernya di ruang publik. Apabila kader saling menyerang dan mempertontonkan konflik secara terbuka, maka kepercayaan masyarakat terhadap organisasi maupun para tokoh agama dapat menurun. Kondisi tersebut, kata dia, merupakan kerugian besar yang harus dihindari bersama.

Hasan Basyri Simanjuntak mengajak seluruh kader dan alumni PMII untuk mengedepankan dialog, musyawarah, serta tabayun dalam menyelesaikan setiap persoalan. Ia menilai budaya saling mendengar dan menghormati perbedaan jauh lebih mencerminkan tradisi intelektual PMII dibandingkan saling menyebarkan narasi yang belum tentu benar di media sosial.

Selain itu, ia berharap seluruh elemen organisasi mampu menjaga etika komunikasi digital dengan mengedepankan literasi informasi. Setiap informasi yang diterima hendaknya diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarluaskan. Langkah tersebut penting untuk mencegah lahirnya fitnah, hoaks, maupun polarisasi yang dapat merusak persaudaraan antarkader dan mencederai nama baik organisasi.

Menutup keterangannya, Hasan Basyri Simanjuntak menegaskan bahwa PMII dan seluruh elemen alumninya harus tetap menjadi teladan dalam menjaga persatuan, menjunjung tinggi akhlakul karimah, serta menghormati para ulama dan kiai sebagai pilar moral bangsa.

"Mari kita buktikan bahwa perbedaan pandangan tidak menghilangkan persaudaraan. Kritik boleh disampaikan, tetapi jangan sampai mengorbankan persatuan, kehormatan ulama, dan marwah organisasi yang telah dibangun dengan perjuangan panjang," tutupnya. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga