Sidiq Hartono resmi menyelesaikan studi pascasarjana dan menyandang gelar M.Ag. setelah sukses mempertahankan tesis berjudul "Konsep Pertahanan Diri menurut Kutub al-Sittah" di hadapan dewan penguji. (Istimewa)
Sidiq Hartono resmi menyelesaikan studi pascasarjana dan menyandang gelar M.Ag. setelah sukses mempertahankan tesis berjudul "Konsep Pertahanan Diri menurut Kutub al-Sittah" di hadapan dewan penguji. (Istimewa)



Indomedia.co - Program Studi Magister Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) kembali melahirkan lulusan baru. Sidiq Hartono resmi menyelesaikan studi pascasarjana dan menyandang gelar Magister Agama (M.Ag.) setelah sukses mempertahankan tesis berjudul "Konsep Pertahanan Diri menurut Kutub al-Sittah" di hadapan dewan penguji.

Penelitian tersebut dinilai relevan karena menggali perspektif enam kitab hadis otoritatif (Kutub al-Sittah) mengenai strategi pertahanan diri manusia, baik dari dimensi spiritual, mental, maupun fisik. Kajian mendalam terhadap materi hadis klasik ini terhitung jarang diulas secara komprehensif pada lanskap akademik kontemporer.

Di lingkungan kampus, Sidiq dikenal sebagai pribadi yang disiplin, tekun, dan fokus dalam menyerap materi perkuliahan. Ritme studi yang progresif juga ditunjukkannya dengan langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) tanpa jeda waktu begitu menyelesaikan pendidikan sarjana (S1).

Keputusan tersebut mengindikasikan komitmen jangka panjangnya terhadap dunia akademik. Didukung kecakapan literasi yang memadai, ia tidak hanya mahir merumuskan gagasan dalam tulisan ilmiah, tetapi juga memiliki minat baca yang kuat terhadap berbagai literatur serta jurnal riset ilmu hadis.

Wakil Rektor II UINSU, Abrar M. Dawud Faza, menilai Sidiq memiliki modal besar untuk menjadi pemikir masa depan. Kombinasi antara rekam jejak, kapasitas intelektual, dan ketekunan yang diperlihatkannya membuat ia berpotensi besar memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Sidiq bukan hanya tekun, tetapi juga memiliki kemampuan literasi yang sangat baik dalam membaca dan menulis karya ilmiah, khususnya ilmu hadis. Kami melihat ada potensi besar dalam dirinya untuk tumbuh menjadi intelektual atau cendekiawan muslim masa depan," ujar Abrar dalam keterangan tertulis, Kamis, 9 Juli 2026.

Kendati demikian, tantangan akademis dan sosial di luar ruang sidang dipastikan akan semakin kompleks. Sebagai seorang lulusan magister, ia dituntut untuk terus memperbarui dan mengasah keilmuannya secara konsisten pada bidang spesialisasi yang dipilih.

"Saat ini, bidang ilmu hadis sangat membutuhkan pencerahan dan kedalaman wawasan agar keberadaannya dapat membumi dan diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Sidiq harus terus mengasah ilmunya agar mampu menjawab tantangan zaman tersebut," kata Abrar.

Melalui kontribusi pemikiran dari para lulusan baru, ilmu hadis diharapkan dapat tampil lebih aplikatif di era modern. Kedalaman wawasan para sarjananya diharapkan menjadi jembatan agar nilai-nilai dalam hadis dapat dipahami dengan baik dan diterima secara inklusif oleh masyarakat luas.

Sebagai catatan reflektif, Abrar menekankan bahwa penguasaan pengetahuan merupakan proses berkelanjutan.

"Nasihat saya untuk Sidiq, jangan pernah berhenti menuntut ilmu setelah meraih gelar magister ini. Proses belajar adalah perjalanan seumur hidup, karena ilmu pengetahuan sejatinya adalah modal utama kita dalam mengarungi kehidupan dan memberi manfaat bagi umat," tuturnya. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga