Dukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi Lokal, Manajemen PT SMGP Tinjau Lahan Kopi dan Jagung Binaan di Madina

Manajemen PT SMGP melakukan observasi lapangan ke areal perkebunan kopi binaan Kelompok Tani Tor Bania Jaya di Hutabaringin, Puncak Sorik Marapi, Madina, Sumut, Minggu, 18 Oktober 2026. (Istimewa)
Manajemen PT SMGP melakukan observasi lapangan ke areal perkebunan kopi binaan Kelompok Tani Tor Bania Jaya di Hutabaringin, Puncak Sorik Marapi, Madina, Sumut, Minggu, 18 Oktober 2026. (Istimewa)


Indomedia.co - Manajemen perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) melakukan observasi lapangan ke areal perkebunan kopi binaan Kelompok Tani Tor Bania Jaya di Desa Hutabaringin, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara, Minggu, 18 Oktober 2026.

Kunjungan lapangan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) PT SMGP, Ali Sahid, didampingi Koordinator Tim Community Development & Community Relations (CDCR), Ngalim, serta jajaran pengamanan dari PT Nawakara.

​Kelompok Tani Tor Bania Jaya merupakan salah satu kelompok tani binaan PT SMGP yang memiliki 30 orang anggota. Kelompok ini mengelola lahan perkebunan kopi seluas 15 hektar yang membentang di ketinggian 1.000 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut (MDPL). Komoditas yang ditanam merupakan varietas unggul Arabika Ateng Super dan Arabika Komasti yang bibitnya didatangkan langsung dari Balai Penangkaran Kopi dan Kakao Jember, Jawa Timur.

Ketua Kelompok Tani, Parlindungan, melalui Sekretaris Faisal menyampaikan bahwa keberadaan perkebunan kopi ini berawal dari pemanfaatan lahan kosong seluas 15 hektar. Melalui diskusi dan kolaborasi bersama tim CDCR PT SMGP, penyaluran bantuan 19.000 batang bibit kopi berhasil direalisasikan pada Mei 2025.

"Penanaman pertama kami lakukan pada Mei 2025. Saat ini umur tanaman sekitar 17 bulan dan kami merencanakan panen perdana pada Desember mendatang," ujar Faisal.

Faisal mengapresiasi pola pendampingan yang diberikan PT SMGP secara berkelanjutan. Menurutnya, bantuan yang disalurkan tidak hanya sebatas bibit, tetapi mencakup penyuluhan Budi daya, pemantauan berkala, hingga rencana penanganan pascapanen.

​"Perkiraan produksi awal berada di kisaran 0,2 hingga 1 kilogram per pohon. Jika rata-rata kita ambil 0,5 kilogram per pohon pada musim perdana ini, maka estimasi hasil mencapai sekitar 10 ton gabah kopi. Dengan harga gabah saat ini Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, potensi pendapatannya sangat membantu masyarakat," ungkap Faisal.

Ia menambahkan, ke depan kelompok tani berkomitmen tidak hanya menjual dalam bentuk gabah, melainkan olahan bubuk kopi siap konsumsi untuk meningkatkan nilai jual, dengan pendampingan penuh dari PT SMGP.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada PT SMGP. Program ini terbukti mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap sinergi ini terus berlanjut," tuturnya.

​Selain meninjau kebun kopi, rombongan manajemen PT SMGP turut melakukan observasi ke lokasi perkebunan jagung milik Kelompok Tani Berjuang Satu di Desa Maga Lombang, Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Program perkebunan jagung seluas 1,2 hektar ini merupakan wujud kolaborasi antara PT SMGP, Polres Madina, dan masyarakat setempat dalam mendukung program ketahanan pangan nasional yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Kelompok Tani Berjuang Satu, Bongsu Nasution, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat Desa Maga Lombang sebagai mitra penanaman jagung. Masa panen perdana ladang jagung tersebut juga dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.

Kepala Teknik Panas Bumi PT SMGP, Ali Sahid, menegaskan bahwa pelaksanaan program Community Development perusahaan berfokus pada lima pilar utama, yakni Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan, serta Sosial Budaya dan Keagamaan.

"Dari kalkulasi awal untuk komoditas kopi, hasil panen perdana ini berpotensi meraup nilai ekonomi hingga Rp 500 juta berdasarkan estimasi harga gabah Rp 55 ribu per kilogram. Angkanya tentu bisa lebih tinggi jika sudah melalui proses roasting. Lahan yang dulunya kosong kini menjadi produktif dan bernilai ekonomi," papar Ali Sahid.

Ali menekankan pentingnya kolaborasi yang erat antara perusahaan dan warga sekitar agar keberadaan industri panas bumi membawa manfaat nyata secara berkelanjutan.

"Harapan PT SMGP adalah perusahaan dapat tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Hal ini tentunya dapat terwujud apabila perusahaan dan masyarakat saling bergandengan tangan," pungkasnya.

​Amatan di lokasi, kunjungan berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Anggota kelompok tani dan rombongan manajemen PT SMGP tampak berdiskusi santai sambil menikmati kopi bersama di tengah ladang. ***

Reporter: MS Putra

Editor: Suwardi Sinaga

Post a Comment

Komentar pembaca bukan bagian dari tanggung jawab redaksi.

Lebih baru Lebih lama