Menaker Yassierli saat mengikuti sesi pitching atau presentasi proyek peserta TIH di BPKK Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 1 Oktober 2026. (Biro Humas Kemnaker)
Menaker Yassierli saat mengikuti sesi pitching atau presentasi proyek peserta TIH di BPKK Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 1 Oktober 2026. (Biro Humas Kemnaker)

Indomedia.co - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta peserta Talent and Innovation Hub (TIH) memastikan produk yang dikembangkan memiliki keunggulan yang dapat dibuktikan melalui eksperimen dan pengukuran yang jelas.

Hal tersebut disampaikan Yassierli saat mengikuti sesi pitching atau presentasi proyek peserta TIH di Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 1 Oktober 2026.

Sesi tersebut diikuti peserta TIH dari BPKK Bekasi dan Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (BBPKK) Bandung Barat. Para peserta mempresentasikan proyek yang telah mereka kembangkan selama dua bulan.

Yassierli mengatakan, dua bulan pertama menjadi masa bagi peserta untuk memperoleh berbagai pembelajaran, termasuk mencari produk yang memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi bisnis. Menurut dia, menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar bukan perkara mudah.

“Sekarang sudah berjalan dua bulan, ini terasa sulit. Dalam dua bulan ini, adik-adik sudah belajar banyak. Salah satunya bagaimana mencari sebuah produk yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai bisnis. Itu tidak mudah,” kata Yassierli.

Menaker Minta Peserta Kenali Kekuatan Kelompok

Dalam proses pengembangan produk, Yassierli meminta peserta terlebih dahulu mengenali kekuatan dan kompetensi masing-masing kelompok. Jika gagasan yang dikembangkan berasal dari inovator lain, peserta perlu menemukan kontribusi yang dapat diberikan agar memiliki peran dalam pengembangan produk.

“Coba lakukan asesmen internal di kelompok kalian. Kekuatan kelompok kalian ada di mana? Karena kalau kita tidak punya sesuatu yang bisa kita kontribusikan, posisi kita akan lemah sekali,” ujarnya.

Sementara jika gagasan berasal dari kelompok sendiri, peserta diminta memastikan produk tersebut memiliki keunggulan yang dapat dibuktikan. Pengujian, kata Yassierli, dapat dilakukan dengan membandingkan karakteristik produk dengan produk kompetitor menggunakan indikator yang terukur.

Menurut dia, gagasan produk juga tidak harus selalu rumit. Ide dapat berangkat dari persoalan yang dilihat, dirasakan, dan dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan tersebut kemudian dapat dikembangkan sesuai dengan minat, kemampuan, dan kompetensi yang dimiliki anggota kelompok.

“Pastikan kalian memiliki sesuatu yang unik. Ada sesuatu yang kalian kuasai sendiri, ada anggota kelompok yang menguasai bidang tersebut, dan ada anggota kelompok yang memiliki keahlian yang memang dibutuhkan untuk mengembangkan produk itu,” katanya.

12 Proyek Dikembangkan Peserta TIH

Dari BPKK Bekasi, terdapat enam proyek yang dikembangkan peserta TIH. Proyek tersebut terdiri atas Noisora, berupa panel peredam suara berbahan kain majun; Biopelet, yang memanfaatkan limbah daun gambir sebagai bahan bakar pendamping (co-firing); Harbite Gummy, berupa jamu dalam bentuk permen gummy; Blace–Botanica Solace, berupa home gardening kit dengan pupuk berbahan ampas kopi; Cocovalue, yang memanfaatkan limbah serabut kelapa; serta Andallo, platform digital untuk pencarian dan pemesanan jasa lokal.

Sementara itu, peserta dari BBPKK Bandung Barat mengembangkan enam proyek, yaitu Portofolio Ku, MindPlay, Kave, Palapa, ChocoNusa, dan Wait2Waste.

Melalui sesi pitching tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan untuk memaparkan perkembangan proyek sekaligus menguji gagasan dan keunggulan produk yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar dan potensi bisnisnya. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga

Post a Comment

Komentar pembaca bukan bagian dari tanggung jawab redaksi.

Tag Terpopuler