Akademisi UMSU, Dr. Sahran Saputra, S.Sos., M.Sos., menjadi salah satu expert presenter dalam Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan LAZISMU Pusat, di Hotel Dafam, Semarang, Jumat, 6 November 2026. (Istimewa)

Indomedia.co - Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Sahran Saputra, S.Sos., M.Sos., menjadi salah satu expert presenter dalam Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan LAZISMU Pusat, di Hotel Dafam, Semarang, Jumat, 6 November 2026.

Forum akademik ini menghadirkan 35 presenter dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia, serta kalangan praktisi dan peneliti yang membahas berbagai isu strategis pengembangan zakat dan filantropi Islam. Presentasi dilaksanakan secara paralel berdasarkan bidang kajian masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Sahran yang merupakan Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU mempresentasikan artikel berjudul "Meningkatkan Keberlanjutan melalui Gerakan Filantropi Berbasis Zakat Pertanian: Studi Komprehensif Mengenai Modal Kesejahteraan Sosial." Penelitian ini merupakan kolaborasi bersama dua dosen lainnya Mujahiddin dan Yursina Tanjung.

Penelitian tersebut mengangkat isu strategis mengenai bagaimana zakat pertanian dapat dikembangkan bukan sekadar sebagai instrumen distribusi bantuan karitatif, melainkan menjadi kekuatan sosial dan ekonomi untuk membangun kemandirian masyarakat petani secara berkelanjutan.

Sahran menjelaskan bahwa zakat pertanian memiliki karakteristik yang unik karena berkaitan langsung dengan siklus produksi masyarakat agraris. Dengan karakter tersebut, zakat memiliki peluang besar untuk menjadi instrumen penguatan ekonomi lokal sekaligus membangun solidaritas sosial di tingkat komunitas.

"Filantropi zakat tidak seharusnya berhenti pada tindakan memberikan bantuan. Zakat harus mampu menjadi modal kesejahteraan sosial yang menghubungkan solidaritas masyarakat dengan proses pemberdayaan ekonomi, sehingga penerima manfaat tidak terus-menerus berada dalam posisi ketergantungan, tetapi memiliki peluang untuk tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri," ungkapnya yang menjadi salah satu gagasan utama yang ditawarkan dalam penelitian tersebut.

Ia menawarkan tiga pilar optimalisasi zakat pertanian berkelanjutan, yakni pengembangan agribisnis, pelatihan dan pendampingan masyarakat, serta fasilitasi infrastruktur produktif. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi petani sekaligus membangun ekosistem kesejahteraan sosial di pedesaan.

Keikutsertaan akademisi FISIP UMSU dalam forum ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu kesejahteraan sosial yang responsif terhadap persoalan masyarakat. Sekaligus memperkuat peran Prodi Kesejahteraan Sosial UMSU dalam menghasilkan riset dan gagasan inovatif di bidang pemberdayaan masyarakat, filantropi Islam, dan pembangunan kesejahteraan sosial berkelanjutan. ***

Reporter: Suwardi Sinaga

Editor: Suwardi Sinaga

Baca berita lainnya di Google News

Post a Comment

Komentar pembaca bukan bagian dari tanggung jawab redaksi.